فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"
Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98).
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya pujian, pujian yang
sebaik-baiknya lagi diberkahi. Segala pujian bagi Allah, Zat yang
menyeru hamba-Nya menuju pintu-pintu rahmat-Nya, yang memberi kenikmatan
dengan menurunkan al-Quran, di dalamnya terdapat petunjuk tatanan
kehidupan yang damai dan sejahtera di dunia, dan menjanjikan sebuah
kepastian kenikmatan yang sempurna di alam akhirat. Kita memuji-Nya atas
kenikmatan-Nya yang banyak, juga atas petunjuk dan kemudahan jalan
meraihnya dengan kitab-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang
dijanjikan akan meraih kesempurnaan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya,
membaca al-Quran adalah amalan yang memiliki keutamaan sangat besar.
Mereka para pembaca al-Quran adalah kaum yang terpuji, di mana Allah
memuji mereka dengan firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ
كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"
Sesungguhnya,
orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka
dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan
perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada
mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Fathir: 29-30).
Ada beberapa adab membaca al-Quran, namun tidak akan kita bahas
semuanya, hanya terfokus pada firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 98
di atas saja, yaitu perintah ber-
isti’adzah, berlindung kepada
Allah dari godaan setan saat hendak membacanya. Sekelumit tentang
berlindung kepada Allah dari setan serta hal-hal terkait dengannya akan
kita sajikan di sini pada edisi kali ini, semoga Allah memudahkannya
dan memberkahinya.
Amin.
Penjelasan Kata-kata
اَلْقُرْآنَ : ialah
kalam (firman) Allah, yang diturunkan
dari sisi-Nya ke dalam dada Rasul-Nya, penutup para nabi dan rasul,
Muhammad, yang diawali dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat
an-Nas (
Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
فَاسْتَعِذْ : ber-
isti’adzah-lah kepada Allah, yaitu membaca “
at-ta’awwudz”, kalimat berlindung kepada Allah dari godaan setan.
اَللَّهِ : ialah
lafzhul jalalah, yaitu sebuah nama khusus
bagi Zat yang berhak dipertuhankan oleh segala sesuatu dan yang berhak
diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya (
Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan
Tafsir ath-Thabari, 1/67), di antaranya sebab Ia adalah Zat yang bersifat melindungi hamba-Nya.
مِنَ الشَّيْطَانِ : dari setan, yaitu dari Iblis dan anak keturunannya
serta pengikut-pengikutnya baik dari golongan jin, manusia maupun
golongan binatang (
Tafsir ath-Thabari, 1/57).
اَلرَّجِيْمِ : yang dilaknat, berarti yang dihalangi dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Makna umum ayat
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar siapa saja yang hendak
membaca al-Quran, di mana ia merupakan semulia-mulianya dan
seagung-agungnya kitab, di dalamnya terdapat kebaikan hati, ilmu
pengetahuan agama yang sangat banyak, hendaknya berlindung kepada Allah
dari godaan setan dengan ber-
isti’adzah. Sebab setan itu
sangat kuat kemauannya untuk berusaha sekuat daya upayanya memalingkan
hamba dari maksud-maksud dan tujuan-tujuan baiknya ketika ia hendak
memulai melakukan amalan-amalan yang utama.
Dan sebagaimana diketahui bahwa membaca al-Quran merupakan amalan yang
utama, sehingga jalan keselamatan terhindar dari godaan setan dan
kejahatannya adalah dengan bersandar kepada Allah, serta ber-
isti’adzah meminta
perlindungan kepada Allah dari kejahatannya. Sehingga Allah pun
mensyariatkan agar seorang pembaca al-Qur’an hendaknya meminta
perlindungan dengan melafazhkan
isti’adzah, disertai
tadabbur maknanya,
tulus hati bersandar kepada Allah agar tidak dipalingkan hatiya oleh
setan dari amalan utamanya tersebut. Disertai kesungguhan dalam usaha
menolak was-was serta pikirannya yang hina, bersungguh-sungguh
mengerahkan sarana apa saja yang paling kuat sehingga memungkinkan untuk
menepis godaannya, dan sarana tersebut adalah dengan berhias diri
dengan perhiasan iman dan
tawakkal kepada Allah semata (
Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di).
Lafazh-lafazh isti’adzah
Lafazh
isti’adzah disebut juga
at-ta’awwudz, dan di masyarakat kita istilah “ber-
ta’awwudz” lebih dikenal dari pada “ber-
isti’adzah”, namun keduanya sama saja dan tidak berbeda maksudnya, yaitu sama-sama bermaksud ber-
isti’adzah. Di antara lafazh
isti’adzah atau
at-ta’awwudz adalah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
"
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."
Lafazh
isti’adzah atau
at-ta’awwudz seperti itu merupakan lafazh
isti’adzah
yang dipegangi dan dikuatkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, mereka
beralasan lafazh tersebut merupakan lafazh Kitabullah, al-Qur’an,
seperti yang jelas terdapat dalam Surat an-Nahl ayat 98 tersebut
(sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam
Tafsir-nya 1/62, dan juga oleh ulama ahli tafsir lainnya).
Ada lafazh
isti’adzah yang lain, ialah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya."
Atau lafazh lain yang semisal dengan lafazh tadi hanya ditambah nama di antara nama-nama Allah,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"
Aku
berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya,
serta dari syair-syairnya." (Tentang lafazh
isti’adzah ini lihatlah
al-Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam al-Qurthubi 1/62,
Tafsirul Qur’an al-Azhim oleh Ibnu Katsir 1/111-113,
Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal. 68 dan
Irwaul Ghalil, 1/341 keduanya oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani.)
Makna ber-isti’adzah
Ber-
isti’adzah artinya adalah membaca salah satu dari lafazh-lafazh
isti’adzah atau
at-ta’awwudz
di atas tatkala hendak membaca al-Quran atau dalam keadaan tertentu
yang seseorang berhajat kepada perlindungan Allah dari godaan setan.
Dan orang yang membaca
isti’adzah atau ber-
ta’awwudz berarti ia telah mengucapkan dengan lisannya, bahwa ia tengah memohon perlindungan kepada Allah,
Rabb-nya dan
Rabb
segala sesuatu, Zat Yang Mahakuasa berbuat segala yang dikehendakinya,
Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sesembahannya makhluk yang
dahulu maupun yang kemudian, dari kejahatan Iblis yang dijauhkan dan
tidak dirahmati oleh Allah, juga dari kejahatan bala tentaranya, baik
dari golongan jin maupun manusia (
Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 1/10-11).
Ibnu Katsir
rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya mengatakan, “Makna ber-
isti’adzah
adalah aku sandarkan diriku dengan berlindung kepada Allah supaya
dijauhkan dari setan yang terlaknat agar tidak berlaku jahat kepadaku
dalam agamaku maupun duniaku, dan agar ia tidak menghalangiku dari
melaksanakan apa yang aku diperintahkan, dan agar ia tidak mendorongku
untuk melakukan sesuatu yang aku dilarang atasnya, sebab setan itu
tidak ada yang kuasa menahannya selain Allah…” (
Tafsir Ibnu Katsir, 1/114).
Ber-isti’adzah itu sebelum atau sesudah membaca al-Quran?
Berkaitan dengan masalah membaca
ta’awwudz saat membaca al-Quran, mungkin perlu dipertegas lagi kapankah seseorang itu ber-
isti’adzah? Apakah sebelum ataukah sesudah membaca al-Quran?
Ayat nomor 98 dari Surat an-Nahl tersebut zhahirnya jelas sekali
menggunakan kata kerja masa lampau, coba kita cermati firman Allah
tersebut,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Kita
dapati pada ayat di atas kata kerja «قَرَأْتَ» yang menunjukkan kata
kerja bentuk lampau, yang artinya pekerjaannya telah usai. Sehingga
ayat di atas berarti “
apabila kamu telah usai membaca al-Qur’an…” bukan “apabila kamu hendak membaca al-Qur’an…” bukan pula “apabila kamu sedang membaca al-Qur’an…”
Dari pemahaman zhahir ayat seperti inilah sebagian sahabat dan sebagian ulama berpendapat bahwa ber-
isti’adzah itu dilakukan setelah membaca al-Quran, sebab
isti’adzah itu untuk menyingkirkan
‘ujub setelah usai beribadah (
Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir 1/110-111 dan
Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an,
Imam al-Qurthubi 1/63). Namun, pendapat ini lemah. Sebab, ini
berseberangan dengan hadits-hadits yang menerangkan praktik Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ber-
isti’adzah. Adapun yang
rajih (kuat) adalah apa yang dipegangi oleh
jumhur (mayoritas) ulama, yaitu bahwa ber-
ta’awwudz itu sebelum membaca al-Quran.
Jumhur ulama mengatakan bahwa
isti’adzah itu guna untuk menyingkirkan was-was setan tatkala seseorang tengah beribadah, dan untuk itulah ber-
isti’adzah adalah sebelum ia membaca al-Quran. Adapun makna ayat di atas kalimat «إِذَا قَرَأْتَ» itu bermakna “
apabila kamu telah berkehendak membaca” sebagaimana firman Allah
Ta’ala dalam Surat al-Maidah ayat 6,
… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ …
Yang artinya secara zhahir: “
Apabila kamu telah tegak untuk mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu”, itu bermakna “
apabila kalian sudah berkehendak untuk tegak menuju shalat”. Ayat ini dimaknai demikian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah cukup banyak, sehingga kuatlah pendapat jumhur ulama ini bahwa
isti’adzah itu dibaca sebelum membaca al-Quran (sumber yang sama di atas).
Di antara hadits yang menerangkan bahwa
isti’adzah itu sebelum membaca al-Quran adalah haditsnya Abu Said al-Khudri
radhiallahu anhu yang ia mengatakan, “Adalah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila shalat malam, beliau pun membaca
istiftah (
iftitah) dan bertakbir dengan membaca,
سُبْحَانَكَ اللَّهمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَاليَ جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
“
Mahasuci
Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, dan begitu melimpah keberkahan
nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, dan tidak ada
sembahan yang berhak diibadahi selain-Mu.”
Lalu beliau mengucapkan (( لا إله إلا اللَّه )) tiga kali, kemudian beliau membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“
Aku
berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya,
serta dari syair-syairnya.”
Kemudian beliau membaca (( اللَّه أكبر )) tiga kali, kemudian membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“
Aku
berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya,
serta dari syair-syairnya.” (Sumber yang sama di atas, lihat juga catatan kaki no. 5, dan
Al-Fathur Rabbani, Ahmad Abdurrahman al-Banna ,3/11/504)
Hadits tersebut dan hadits lain yang semakna dengannya, jelas menerangkan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam itu ber-
isti’adzah sebelum membaca Surat al-Fatihah, sebab doa
istiftah itu dibaca oleh beliau sebelum membaca
isti’adzah, dan tidak mungkin beliau membaca al-Fatihah sebelum membaca
istiftah, artinya pastilah beliau membaca
isti’adzah sebelum membaca al-Fatihah.
Keharusan berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan (
Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir, 1/110).
Tidak jarang didapati adanya permusuhan antara satu orang dengan orang
lain. Dan ternyata permusuhan manusia itu tidak hanya terbatas pada
permusuhan antarmanusia itu sendiri, bahkan permusuhan mereka dengan
makhluk jenis lain yaitu setan. Setan jenis manusia lebih ringan
daripada setan jenis jin. Sehingga Allah-pun memerintahkan agar
bersikap pemaaf dan berlemah lembut dahulu menghadapi musuh dari jenis
manusia. Allah berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’raf: 199).
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjadi pemaaf,
sebab dengan hal itu akan bisa diharapkan kembalinya seseorang pada
asal tabiatnya yang baik lagi menyayangi dan lapang dada. Perhatikan
juga firman Allah yang lain, misalnya yang tersebut dalam al-Quran
surat al-Mu’minun ayat 96, juga surat Fushshilat ayat 34-35, maka akan
semakin jelas bahwa Allah memerintahkan agar saling memaafkan dan
saling berbuat baik agar tercipta persaudaraan yang saling kasih dan
saling sayang.
Namun tidak demikian halnya perintah Allah dalam menghadapi setan dari
jenis jin, kita diperintah harus berlindung darinya kepada-Nya
semata, hanya itu perintah-Nya tidak ada yang lain. Sebab setan itu
tidak akan menerima perlakuan baik sekalipun, sedangkan ia tidak
menghendaki dari diri manusia selain kebinasaan semata. Hal ini sebab
besarnya permusuhan dan pertentangan antara dia dengan bapak manusia,
yaitu Adam alaihis salam, sejak di zaman dahulu kala. Sehingga Allah pun
memberi peringatan akan bahaya setan bagi manusia dengan firman-Nya,
يَا بَنِي آدَمَ لاَ
يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ
الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا
جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"
Hai
anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia
menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada
keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu
dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya
Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi
orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-A’raf: 27).
Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita, bahwa setan itu
adalah musuh bagi kita, maka kita diperintah harus menganggap sebagai
musuh. Di antara sebabnya adalah setan itu hanya mengajak golongannya
supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir: 6
dan al-Kahfi: 50).
Ayat-ayat di atas menegaskan tentang siapa itu setan bagi manusia,
maka Allah pun mewajibkan agar manusia berlindung kepada-Nya dari tipu
dayanya. Tidak lagi Allah perintahkan ramah-tamah atau yang lainnya
sebab hal itu tidak akan ada gunanya bagi setan. Memang sejak semula
setan hanya berkehendak jahat bagi manusia semuanya, ia berpura-pura
tampil sebagai seorang pemberi nasehat, namun ia pun dusta, sebab ia
hanya akan mencelakaan semata. Allah sebutkan dalam al-Quran dengan
firman-Nya,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis menjawab, “
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).
Allah mengusir amarah dan setan dari orang yang ber-isti’adzah
Isti’adzah memiliki keutamaan yang sangat besar. Cukuplah bagi kita dua hadits di bawah ini untuk mengetahui kebesaran dan kehebatan
isti’adzah tersebut, yaitu untuk mengusir amarah, juga mengusir setan.
Imam al-Qurthubi
rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya menyebutkan sebuah hadits (HR. Muslim, 2610 dan Bukhari, 6115, lihat
Tafsir al-Qurthubi, 1/63 dalam
muqaddimah dan
Tafsir Ibnu Katsir,
1/112-113), sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
Sulaiman bin Shurad, ia mengatakan, “Ada dua laki-laki yang sedang
saling mencaci di sisi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah satu di antara keduanya pun marah, mukanya memerah, dan padamlah raut wajahnya, maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandanginya lalu beliau bersabda,
إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“
Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
'
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'”
Kemudian, ada seseorang yang mendengar sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tadi mendatangi salah seorang dari keduanya (yang saling
mencaci,—red.) lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi? Sungguh, Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "
Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Maka, laki-laki tersebut pun mengatakan kepadanya, “Apakah menurutmu aku ini gila?”
Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Abil ‘Ash ats-Tsaqafi
rahimahullahu ta’ala, bahwa dia mendatangi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah datang dan
menggangguku dalam shalatku juga menggangguku dengan mengacaukan
bacaanku.” Maka, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا
“
Itu
adalah seorang setan yang disebut Khanzab, maka apabila kamu
merasakan kedatangannya berlindunglah kepada Allaoh (ber-ta’awwudz-lah)
darinya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”
Utsman pun mengatakan, “
Aku pun melakukannya, maka Allah pun mengusirnya dariku.” (HR. Muslim, 2203).
Allahu Akbar, Wallahul Musta’an.
SEMOGA BERMANPAAT AMIN